Definisi dan Contoh Hedging (EMK-411)

Definisi Hedging (wikipedia.org)

Lindung nilai atau dalam bahasa Inggris disebut hedge dalam dunia keuangan dapat diartikan sebagai suatu investasi yang dilakukan khususnya untuk mengurangi atau meniadakan risiko pada suatu investasi lain. Lindung nilai adalah suatu strategi yang diciptakan untuk mengurangi timbulnya risiko bisnis yang tidak terduga, di samping tetap dimungkinkannya memperoleh keuntungan dari invetasi tersebut.

Seorang hedger atau pelaku lindung nilai biasanya akan melakukan investasi pada suatu sekuritas yang diyakininya memiliki harga di bawah nilai pasar yang seharusnya dan menggabungkannya dengan sekuritas lainnya yang berhubungan dengan sekuritas tersebut. Holbrook Working, seorang perintis teori lindung nilai menyebut teori ini dengan istilah “speculation in the basis” (spekulasi dasar), di mana dasarnya adalah perbedaan antara nilai teoritis lindung nilai dengan nilai pasar sesungguhnya.

Beberapa bentuk risiko yang diambil merupakan suatu risiko yang menyatu dari kegiatan bisnis yang dilakukan, dan beberapa merupakan hal yang wajar pada bisnis tertentu seperti misalnya pada bidang usaha pertambangan minyak dimana risiko kenaikan dan penurunan harga adalah hal yang wajar.

Beberapa bentuk risiko lainnya adalah tidak diinginkan namun tidak dapat dihindari tanpa dilakukan lindung nilai. Misalnya seseorang yang memiliki toko, tentunya dapat mengatasi risiko alami yang timbul seperti persaingan, kualitas barang yang jelek, barang yang tidak diminati, dan lainnya. Namun, risiko musnahnya sediaan barang dagangan oleh kebakaran adalah suatu risiko yang tidak diinginkan, tetapi dapat dilakukan lindung nilai dengan mengasuransikan tokonya terhadap risiko kebakaran.

Tidak semua lindung nilai merupakan instrumen keuangan. Misalnya saja seorang produser yang melakukan ekspor ke negara lain dapat melakukan lindung nilai atas risiko nilai tukar mata uang dengan cara menghitung biaya-biaya produksinya dalam mata uang yang diinginkannya.

Perbankan dan lembaga keuangan lainnya menggunakan lindung nilai untuk mengendalikan ketidak sesuaian antara aktiva dan kewajibannya seperti misalnya ketidak sesuaian saat jatuh tempo antara posisi jual, suku bunga pinjaman tetap dan deposito jangka pendek.

 

Contoh hedging (Wikipedia.org)

Seorang investor percaya bahwa harga saham dari perusahaan XXX akan naik bulan depan sehubungan dengan ditemukannya suatu metode baru yang efisien dalam produksi ZZZ. Ia ingin membeli saham XXX agar dapat memperoleh keuntungan dari kenaikan harga saham yang diperkirakannya, namun XXX berada pada kelompok industri yang berisiko tinggi. Apabila si investor secara sederhana langsung melakukan pembelian saham termaksud, maka transaksi tersebut merupakan suatu tindakan spekulatif. Namun, si investor meminati saham perusahan XXX tersebut sehingga mengabaikan kelompok industri di mana perusahaan tersebut berada, namun ia ingin melakukan lindung nilai terhadap risiko terhadap industri di mana perusahaan tersebut berada dengan melakukan posisi jual (short) dengan nilai yang sama dari saham pesaing langsung dari XXX yaitu saham AAA. Apabila si investor melakukan posisi jual (short) suatu aset yang secara matematis memiliki suatu nilai yang berhubungan dengan nilai saham XXX ( misalnya opsi beli (call option) saham XXX) maka transaksi tersebut dapat berisiko dan transaksi ini disebut arbitrasi (arbitrage) [1][2]. Tetapi, apabila risiko tetap ada dalam transaksi tersebut maka ini disebut lindung nilai.
Portofolio si investor pada hari pertama adalah sebagai beikut:

  • Posisi beli (long) 1.000 saham dari XXX dengan harga Rp 100
  • Posisi jual (short) 500 saham dari AAA dengan harga Rp 200

(Catatan : si pedagang melakukan penjualan (short) dengan nilai transaksi yang sama)
Pada hari kedua transaksi, beredar suatu berita baik terhadap prospek industri ZZZ, dan semua harga saham industri ZZZ naik namun karena XXX adalah merupakan perusahan terbesar dalam industri ZZZ maka sahamnya mengalami kenaikan lebih tinggi yaitu sebesar 10%, dibandingkan saham AAA yang hanya mengalami kenaikan 5%, sehingga portofolio si investor menjadi sebagai berikut:

  • Posisi beli (long) 1.000 saham dari XXX dengan harga Rp 110 – keuntungan Rp 10.000
  • Posisi jual (short) 500 saham dari AAA dengan harga Rp 210 – rugi Rp 5.000

(pada posisi jual (short), si investor mengalami kerugian sewaktu harga saham naik)
Pada hari kedua tersebut si investor mungkin saja menyesal telah melakukan lindung nilai sehingga mengurangi keuntungannya pada kenaikan harga saham XXX, namun pada hari ketiga sebuah berita buruk beredar mengenai efek produk ZZZ terhadap kesehatan dan semua harga saham perusahaan yang memproduksi ZZZ jatuh hinga 50%, namun karena XXX merupakan perusahaan yang lebih baik daripada AAA maka penurunan harga sahamnya lebih rendah dibandingkan AAA.
Nilai dari Posisi beli (long) saham XXX :

  • Hari ke 1 — Rp 100.000
  • Hari ke 2 — Rp 110.100
  • Hari ke 3 — Rp 55.000 – Rugi Rp 45.000

Nilai dari Posisi jual (short) saham AAA:

  • Hari ke 1 — Rp 100.000
  • Hari ke 2 — Rp 105.000
  • Hari ke 3 — Rp 52.500 – Untung Rp 47.500

Tanpa melakukan lindung nilai maka si investor akan mengalami kerugian Rp 45.000, tetapi dengan lindung nilai yaitu mengambil posisi jual (short) pada saham AAA telah menghasilkan keuntungan Rp 2.500 pada saat pasar mengalami kejatuhan.

Contoh di atas merupakan suatu bentuk lindung nilai yang klasik yang dikenal dalam dunia keuangan sebagai “perdagangan berpasangan” (pairs trade).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>